preloader
  Back   

BERDIRI TEGUH DI ATAS RERUNTUHAN DUNIA

(Markus 13:1-13 & Mazmur 70)

      Dalam perjalanan Prapaskah, kita sering kali diingatkan pada  kerapuhan hidup. Dalam Markus 13, murid-murid terpukau oleh megahnya batu-batu Bait Allah. Namun, Yesus memberikan peringatan keras bahwa segalanya akan runtuh. Secara teologis, Yesus sedang menggeser pusat keamanan kita dari yang fisik ke yang abadi.  
       
      Pertama, Menghadapi "Rasa Sakit Kelahiran" (Archē Ōdinōn). Yesus menyebut penderitaan dan goncangan dunia sebagai ōdinōn (Mrk 13:8), yang berarti rasa sakit bersalin. Analisa bahasa Yunani ini mengubah perspektif kita. Penderitaan bukan sekadar kehancuran, melainkan proses menuju kelahiran sesuatu yang baru—yaitu Kerajaan Allah. Di tengah dunia yang berguncang, kita tidak perlu panik secara berlebihan (mē promerimnate), yang berarti jangan biarkan pikiran kita terpecah oleh kecemasan.  

      Kedua, Seruan Darurat dalam Kemiskinan Rohani. Saat "bait-bait" kenyamanan hidup kita mulai goyah, Mazmur 70 menjadi doa yang paling relevan. Pemazmur berseru dengan  kata "Chushah": bersegeralah!. Ini adalah doa seseorang yang menyadari bahwa dirinya adalah 'Ani ve-'Evyon—miskin dan sengsara secara rohani di hadapan Allah. Prapaskah adalah waktu untuk membuang kesombongan "batu-batu megah" kita dan mengakui bahwa tanpa pertolongan segera dari Tuhan, kita tidak akan bertahan.  

      Ketiga, Keteguhan yang Dikuatkan Roh Kudus. Janji Tuhan bagi kita yang merasa lemah adalah penyertaan Roh Kudus. Yesus memanggil kita untuk Hypomeinas (bertahan)—sebuah kata yang berarti tetap berdiri teguh meski sedang ditekan beban berat. Kita mampu bertahan bukan karena kekuatan otot kita, melainkan karena kita bersandar penuh pada Penolong yang tidak pernah lambat (Mzm. 70:6). 

      Sebagai kesimpulan, "Lent" atau Prapaskah mengajak kita untuk jujur pada kerentanan kita. Jangan takut saat struktur duniawi yang kita banggakan goyah. Sebaliknya, gunakan momen itu untuk berseru agar Roh Kudus menguatkan kita. Keamanan sejati bukan terletak pada "batu yang tersusun", melainkan pada Dia yang datang menyelamatkan kita dengan segera.  

      Mari kita melakukan Refleksi: Adakah "batu megah" dalam hidup kita yang sedang digoncang Tuhan agar kita kembali bergantung sepenuhnya kepada-Nya? Tuhan Yesus Kristus meberkati kita semua! (JPT)

Share