preloader
  Back   

BALAK dan BILEAM

(Bilangan 22-23)

Dunia semakin tidak baik-baik saja. Berita perang mulai mengisi hari-hari kita. Perang antara Amerika, Israel melawan Iran yang dikatakan dapat menjadi pemicu Perang Dunia ke 3 membuat rasa takut bagi banyak orang. Dan membuat kondisi ekonomi juga menjadi semakin sulit.

Di dalam renungan Firman Tuhan hari ini, kita mau belajar dari cerita Balak dan Bileam yang membahas tentang ketakutan, keserakahan, ketaatan/ketundukan dan kedaulatan Tuhan. Yang relevan dengan kondisi kita saat ini.

Pertama, Balak. Balak adalah raja Moab yang takut dan gentar melihat banyaknya jumlah bangsa Israel yang berkemah di dataran Moab. Apalagi dia sudah mendengar berita tentang apa yang dilakukan bangsa Israel terhadap orang Amori. Di dalam ketakutannya, yang dilakukan Balak adalah:

* mengambil rencana dan keputusan  yang salah (mau mengutuki bangsa Israel)
* mengambil jalan pintas yang tidak benar (menggunakan kekuatan supranatural melalui Bileam)

Bukankah ini juga sering dilakukan orang-orang bahkan anak Tuhan sekalipun yang dalam kondisi ketakutan & terjepit? Masalah di depan mata (bisnis, jabatan, keluarga) membuatnya tidak dapat berpikir benar. Bukan meminta hikmat dari Tuhan tapi menggunakan pikiran dan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Karena itu banyak juga yang mengambil jalan pintas yaitu pergi ke dukun, peramal bahkan bunuh diri.

Kedua, Bileam. Bileam bukan orang Israel, tapi percaya kepada Yahweh. Bileam juga dapat mendengar suara Tuhan. Walaupun demikian hati Bileam penuh keserakahan. Yang dapat kita pelajari dari Bileam adalah:

* Keserakahan membuat bebal dan bodoh. Upah yang sangat besar membuat Bileam mengabaikan larangan Tuhan. Tuhan menunjukkan kebodohannya lewat seekor keledai. Bileam yang merasa dirinya dapat berkomunikasi dengan Tuhan (kalau kita sekarang adalah orang yang rohani) tapi ternyata "buta". Dan keledai yang adalah binatang yang dianggap bodoh, lebih dapat melihat serta dipakai Tuhan untuk menegur Bileam.

Peringatan buat kita semua, agar tidak menjadikan harta, jabatan atau kekuasaan serta kehormatan menjadi yang utama. Karena dapat membuat hati kita tumpul dan mengabaikan perintah Tuhan.

* Kemunafikan. Terlihat rohani di luar tapi ada kejahatan di dalam hatinya. Tuhan selalu melihat hati. Di dalam kitab Petrus dan Yudas, Bileam disetarakan dengan guru palsu. Memiliki penampilan yang meyakinkan di luar tapi tidak berisi apa-apa. 

Bileam terlihat selalu meminta petunjuk Tuhan tapi yang dilakukan bukan karena ketaatan tapi karena keinginannya akan upah yang besar itu. Penampilannya yang begitu meyakinkan sampai dikatakan di dalam kitab Bilangan 22:6b (TB) ".... sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk." 

Kalau pada akhirnya Bileam tidak mengutuk bangsa Israel tapi berbalik dengan memberkati, itu bukanlah murni karena ketaatannya kepada Tuhan. Tapi karena ketakutannya setelah melihat Malaikat yang menghadang di perjalanan.

Hal ini menunjukkan pada kita bahwa tidak semua orang yang terlihat rohani dan memiliki karunia yang luar biasa, adalah orang yang benar di hadapan Tuhan. 

Ketiga, Tuhan berdaulat atas hidup umat-Nya. Hal ini terbukti di dalam kisah ini yaitu :
* Tuhan turun tangan saat ada orang yang ingin berbuat jahat kepada umat-Nya.
* Tuhan dapat mengubah kutuk menjadi berkat. Bileam tidak jadi mengutuki, tapi justru memberkati bangsa Israel.
* Tuhan dapat memakai siapa saja untuk memberkati umat-Nya. 

Aplikasi untuk kita adalah :
#1. Janganlah hidup dalam ketakutan, sehingga salah mengambil keputusan. Hiduplah dengan iman percaya yang mendatangkan damai sejahtera.
#2. Janganlah jadikan harta, jabatan, kuasa dan kehormatan sebagai tujuan dalam hidup. Hiduplah dengan fokus pada  kekekalan.
#3. Janganlah hidup dalam kemunafikan dan motivasi yang salah. Baik itu di dalam pelayanan maupun hidup sehari-hari. Selalu memiliki kerendahan hati untuk menerima teguran dan koreksi. Manusia dapat dibohongi tapi Tuhan melihat hati.
#4. Rencana manusia bisa berubah, tapi rencana Tuhan tidak dapat digagalkan oleh manusia.
#5. Hidup semakin melekat pada Tuhan sehingga kita dapat mengerti tuntunan-Nya (melalui Firman Tuhan yang kita baca dan kita dengar) serta melakukannya. Hidup dalam ketaatan dan ketundukan pada Tuhanlah yang dapat menyelamatkan. Karena jalan Tuhan adalah yang paling aman untuk kita.
#6. Percaya bahwa Tuhan berdaulat dan memegang kendali atas hidup umat-Nya. 


Kondisi yang kita lihat dan dengar akhir-akhir ini hendaknya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan dan semakin percaya kepada Tuhan karena apa yang tertulis di dalam Firman Tuhan satu persatu dinyatakan. Dunia ini hanyalah tempat sementara sampai Tuhan Yesus datang yang kedua kali seperti yang dikatakan-Nya di dalam kitab Yohanes 14:1-3 (TB)  "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."
Amin. (VG)

Share