Back   
KETIKA CINTA TERLIHAT BOROS
"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu" (Markus 14:7)
Pernahkah Anda melakukan sesuatu yang baik untuk Tuhan, tapi malah dikritik? Anggapannya "berlebihan", "terlalu fanatik", atau "boros"? Inilah yang dialami seorang perempuan dalam bacaan kita hari ini.
Kisah ini terjadi hanya dua hari sebelum Paskah, di Bethania. Suasananya tegang. Para imam kepala dan ahli Taurat sedang berkomplot untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat. Mereka takut untuk bertindak terang-terangan karena Yesus sangat populer di antara orang banyak yang datang merayakan Paskah. Di tengah konspirasi gelap ini, Markus menyelipkan sebuah kisah yang harum semerbak.
Yesus sedang makan di rumah Simon si kusta. Tiba-tiba, seorang perempuan masuk. Ia membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni, yang harganya sangat mahal, sekitar 300 dinar—upah setahun seorang buruh. Tindakannya mengejutkan: ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan seluruh minyak itu ke kepala Yesus. Seketika itu juga, beberapa orang menjadi gusar. "Untuk apa pemborosan ini?" protes mereka. "Minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin." Namun, Yesus membela perempuan itu. "Biarkan dia," kata-Nya. "Mengapa kamu menyusahkannya? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku." Lalu Yesus menambahkan kalimat yang sangat terkenal: "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, …. tetapi Aku tidak selalu ada."
Secara historis, kita melihat ironi yang luar biasa. Di luar rumah, para pemimpin agama merencanakan pembunuhan. Di dalam, seorang perempuan mempersiapkan penguburan Yesus dengan penuh kasih. Secara teologis, Yesus melihat melampaui permukaan. Perempuan itu tidak sedang sekadar bersikap royal; secara tidak sadar ia sedang mengurapi tubuh Yesus untuk hari penguburan-Nya yang sudah semakin dekat. Ini adalah tindakan iman dan pemahaman spiritual yang bahkan para murid tak pahami. Yesus menyebut perbuatannya sebagai "suatu perbuatan yang baik"—sebuah karya indah yang akan dikenang di mana pun Injil diberitakan.
Di sisi lain, ada Yudas Iskariot. Mungkin tersinggung oleh teguran Yesus, atau mungkin karena melihat sumber pendapatannya lenyap, ia segera pergi mengkhianati Yesus demi 30 keping perak—harga seorang budak (Kel. 21:32). Dalam Yoh. 12:6, dikatakan bahwa Yudas adalah seorang pencuri dan sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
Bagi kita saat ini, pelajarannya adalah:
Jangan Takut "Boros" untuk Tuhan: Cinta sejati kepada Yesus seringkali terlihat tidak masuk akal di mata dunia. Waktu yang Anda habiskan untuk berdoa, pujian yang Anda naikkan, atau persembahan yang Anda berikan mungkin dianggap "berlebihan" oleh sebagian orang. Biarlah! Ukurannya bukan logika dunia, tetapi kedalaman cinta Anda kepada Yesus Kristus.
Peka pada "Kairos" (Waktu yang tepat/waktu khusus): Yesus berkata, "Aku tidak selalu bersama kamu." Ada momen-momen khusus di mana Tuhan memanggil kita untuk merespons dengan segera dan total. Jangan tunda respons Anda terhadap panggilan-Nya hari ini dengan alasan-alasan yang "rasional".
Waspadai Motivasi Hati: Baik para pengkritik (para murid) dan Yudas sama-sama mempersoalkan uang. Namun, motivasinya berbeda. Para murid mungkin tulus namun picik, sementara Yudas menyembunyikan hati yang curang. Mari kita periksa hati: apakah kritik kita atas pelayanan orang lain lahir dari kebenaran atau dari iri hati?
Refleksi:
Apakah ada "buli-buli pualam" dalam hidup Anda—sesuatu yang mahal dan berharga—yang selama ini Anda pegang erat-erat? Mungkin waktu, karier, atau rasa aman. Maukah Anda "memecahkannya" hari ini dan mencurahkannya bagi Yesus?
Mari Berdoa:
"Tuhan Yesus, ajariku untuk mengasihi-Mu bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan nyata yang lahir dari hati yang memahami pengurbanan-Mu. Ampuni aku jika terlalu sering menghitung-hitung "biaya" untuk mengikut-Mu. Jadikan hidupku harum sebagai persembahan yang hidup bagi-Mu. Amin. (SDK)