Back   
TAK ADA LOGIKA
"Tetapi Tuhan menjawab Musa: ”Masakan kuasa Tuhan akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!”"(Bilangan 11: 23)
Dalam Kitab Bilangan pasal 11, Bangsa Israel yang telah dibebaskan Tuhan dari perbudakan di Mesir justru merindukan masa lalu mereka. Mereka berkata bahwa di Mesir mereka bisa makan enak dengan cuma-cuma. Mereka melupakan cambuk, kerja paksa, dan penderitaan. Padang gurun terasa keras, manna terasa membosankan. Hati yang tidak puas membuat mereka lupa pada kebaikan Tuhan yang begitu besar. Mereka mengeluh karena mereka tidak mendapatkan apa yang daging mereka inginkan. Mereka lebih memilih kenyamanan semu di tanah perbudakan daripada proses pembentukan iman di padang gurun.
Betapa sering kita pun demikian. Kita mengeluh atas keadaan hari ini, lalu mengidealkan masa lalu, seakan-akan Tuhan tidak sedang bekerja. Musa sendiri kewalahan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin memberi makan sekitar enam ratus ribu orang selama sebulan penuh dengan daging. Apakah harus menyembelih begitu banyak lembu? Apakah cukup ikan di laut untuk mereka? Secara manusia, itu mustahil. Bahkan pemimpin besar seperti Musa pun memiliki keterbatasan dalam memahami cara kerja Tuhan.
Namun Tuhan menjawab dengan cara yang tidak terbayangkan. Ia tidak memakai lembu atau ternak besar. Ia mendatangkan burung puyuh dalam jumlah yang sangat banyak. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Tuhan. Cara-Nya melampaui logika dan perhitungan kita yang sangat amat terbatas.
Renungan ini mengingatkan kita untuk tidak membatasi kuasa Tuhan dalam pikiran kita sendiri. Tuhan sanggup menolong, bahkan dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Tugas kita bukan mengeluh, melainkan percaya. Bukan merindukan “Mesir” lama kita, tetapi berjalan setia di “padang gurun” bersama Tuhan yang setia menyediakan tepat pada waktunya. (SLS)