Back   
MENOLAK YESUS
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: ”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Matius 13:57)
Ketika Yesus kembali ke Nazaret, kampung halamannya, Ia mengajar di rumah ibadat dengan penuh hikmat. Orang-orang terheran-heran melihat pengajaran-Nya, tetapi segera mereka meragukan-Nya. Mereka berkata: “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya Maria? Bukankah saudara-saudaranya kita kenal semua?” (Matius 13:55). Alih-alih percaya, mereka justru menolak Yesus karena terlalu mengenal latar belakang keluarga-Nya. Akibatnya, Yesus tidak banyak melakukan mujizat di sana karena ketidakpercayaan mereka.
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa kedekatan dapat membuat kita buta. Orang Nazaret begitu dekat dengan Yesus secara sosial, tetapi justru kedekatan itu membuat mereka meremehkan-Nya. Mereka melihat Yesus hanya sebagai “anak tukang kayu,” bukan sebagai Mesias.
Dalam hidup kita, sering kali kita juga meremehkan hal-hal yang dekat. Firman Tuhan yang kita dengar setiap minggu bisa terasa biasa. Orang-orang yang memberi nasihat rohani mungkin kita abaikan karena terlalu akrab.
Selain itu, kita belajar bahwa ketidak percayaan dapat membatasi kuasa Tuhan. Yesus sanggup melakukan mukjizat di mana saja, tetapi di Nazaret Ia tidak banyak berkarya karena orang-orang tidak percaya. Ketidak percayaan bukan hanya menutup hati kita, tetapi juga membatasi pengalaman kita akan kuasa Tuhan. Jika kita ingin melihat karya-Nya nyata, kita perlu membuka hati dengan iman.
Pelajaran lain yang penting adalah menghormati karya Allah meski lewat orang sederhana. Tuhan sering memakai orang-orang biasa untuk menyampaikan pesan-Nya. Jika kita menolak karena melihat latar belakang mereka, kita bisa kehilangan berkat yang Tuhan sediakan.
Bayangkan seorang anak muda yang rajin melayani di gereja. Ia sering membagikan renungan singkat di grup WhatsApp keluarga. Namun, karena keluarganya sudah terlalu mengenalnya sebagai “si anak kecil yang dulu nakal,” mereka tidak menanggapi serius. Padahal, firman yang ia bagikan bisa menjadi penguatan bagi mereka. Atau mungkin dalam dunia kerja.
Seorang rekan yang sederhana memberi ide untuk meningkatkan produktivitas. Karena kita sudah terbiasa melihatnya sebagai “orang biasa,” kita meremehkan idenya. Akibatnya, kita kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Hal-hal ini mirip dengan apa yang terjadi di Nazaret. Ketika kita menolak karena prasangka, kita menutup pintu berkat. Oleh sebab itu, kita perlu belajar melihat dengan iman, bukan prasangka. Saat mendengar firman, jangan fokus pada siapa yang menyampaikan, tetapi pada pesan Tuhan di baliknya.
Hargai orang-orang di sekitar kita, karena itu bisa jadi Tuhan memakai mereka untuk menegur, menguatkan, atau mengarahkan kita. Latihlah hati kita untuk percaya, sebab ketika menghadapi situasi sulit, jangan biarkan keraguan menutup pintu mujizat. Percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja, bahkan lewat hal-hal sederhana.
Renungan dari Matius 13:53-58 mengingatkan kita bahwa iman bukan soal seberapa dekat kita dengan Yesus secara sosial, tetapi seberapa percaya kita kepada-Nya sebagai Tuhan. Orang Nazaret gagal melihat kemuliaan Yesus karena mata mereka tertutup oleh prasangka. Sahabat Happy Bible Club yang Tuhan Yesus kasihi, mari kita belajar untuk tidak meremehkan karya Tuhan hanya karena datang lewat orang atau cara yang sederhana. Bukalah hati, percayalah, dan lihatlah bagaimana kuasa-Nya nyata dalam hidup kita. Tetap semangat dan Tuhan Yesus memberkati. (DSP)