preloader
  Back   

IMAN BERDAUN HIJAU

“Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tdk mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Katanya kepada pohon itu: Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya! Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu" (Matius 21:19)

        Tidak di pungkiri bahwa kita melihat kekristenan di kota Surabaya akhir akhir ini sepertinya marak, aktif dan dinamis, kita melihat banyak gereja, khusunya gereja-gereja di pusat perbelanjaan, seperti di  Mal–Mal besar, penuh dengan jemaat. Mereka antusias beribadah, mereka sabar antri untuk masuk ke gedung ibadah raya, bahkan banyak orang – orang Kristen yang merasa bertalenta,  berlomba-lomba mengajukan diri untuk masuk dalam pelayanan gerejawi. Namun ironisnya, bahwa kuantitas jemaat tidak seimbang dengan kualitas keimanan jemaat. Kebanyakan dari mereka tertarik beribadah bukan karena rasa haus dan lapar  akan Firman, tetapi lebih mencari kenyaman, kemegahan suasana, panggung yang megah , lighting yang warna-warni, kotbah yang menjanjikan berkat dan kesukseskan duniawi. Mereka hanya mencari kelepasan psikologi dari kejenuhan aktivitas harian, bahkan mengejar pembicara-pembicara selegram, terbukti  dengan adanya pilih-pilih figur pembicara tertentu.

         Jadi tidak heran, yang berubah dari mereka adalah "casing" nya: nampak lebih rohani, namun hatinya tidak condong mencintai Yesus, tetapi justru lebih mencintai dunia ini. Imannya relatif dangkal, hidupnya tanpa berbuah. Makanya, tidak mengherannya di gereja-gereja yang berisi  orang-orang rohani, justru sering terjadi persaingan, perselisihan, pertengkaran, perpecahan, perebutan kekuasaan, iri hati dst.

         Dalam kontek Matius pasal 21 , diawali dengan Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem, lalu menyucikan bait Allah, mengecam  orang –orang di Bait Allah, karena Bait Allah  sudah beralih fungsi menjadi sarang penyamun berkedok rohani. Bait Allah bukan lagi sebagai rumah doa, tempat pemulihan, membangun  relasi dengan Allah, tetapi sudah menjadi sistem transaksional yang menguntungkan kaum rohaniwan.

        Dalam peristiwa Yesus mengutuk pohon ara, sebagai pengajaran kepada para murid-Nya, bahwa bangsa Isrel yang di lambangkan sebagai pohon ara, hidupnya tidak berbuah. Bangsa ini menolak Mesias, dan mengejar Mesias secara politis yang bisa memberi kebebasan secara duniawi dari tekanan dan penjajahan tentara Romawi, bukan Mesias yang menderita. Tuhan Yesus memberi pengajaran dengan mengutuk pohon ara yg tidak berbuah, yang hanya menghasilkan dedaunan yang hijau, padahal yang Tuhan minta adalah buahnya bukan indahnya dan rimbunnya dedaunan.

       Intinya Tuhan tidak mau orang percaya punya iman yang istilahnya  “iman berdaun hijau“, yaitu  iman yang tampak hidup dari luar tetapi tidak menghasilkan buah yang dikehendaki Allah. Iman yang berdaun hijau bisa di artikan sebagai orang yg tidak ada buah dari pertobatannya , hidup tidak dalam keadilan, kasih dan kebenaran. Iman nya berhenti pada ritualitas agamawi. Sedangkan Tuhan mencari buah dari orang-orang beriman yaitu buah karakter Kristus, hidup dalam ketaatan dan memberi dampak bagi orang lain, bukan suka pertengkaran, perselisihan dan ambisi kekuasaan rohani. Iman yang tidak berbuah lama-lama akan kehilangan hidupnya sendiri. Hati-hati, ingat akhir zaman sudah sangat mendekat dan waktu sepertinya dipercepat. Berbuahlah yang lebat, Amin. (B.E)

Share