Back   
PERJALANAN KEMBALI KEPADA TUHAN
Leonardo da Vinci pernah menghabiskan berhari-hari mencari model di jalanan kota Milan untuk lukisannya yang terkenal, Perjamuan Terakhir. Dia mencari seorang pria yang wajahnya mengambarkan kesombongan dan kejamnya pengkhianatan, sosok yang tepat untuk Yudas. Setelah menemukan wajah yang keras, dia mengatur agar pria itu dibawa ke studionya. Ketika dia mulai melukis, dia menyadari bahwa pria itu adalah orang yang sama, bertahun-tahun sebelumnya, pernah menjadi model untuk melukis wajah Kristus yang teduh dan tenang. Ternyata waktu, dosa, dan kehidupan yang keras telah mengubah pria ini.
Kisah tragis ini mencerminkan manusia pada umumnya: dosa yang merusak jiwa. Inilah realita yang dihadapi Raja Daud dalam Mazmur 51, sebuah doa yang paling jujur yang pernah dicatat. Mazmur ini ditulis setelah nabi Natan melakukan konfrontasi mengenai perzinahannya dengan Batsyeba dan pembunuhan suaminya. Mazmur 51 bukan sekadar pengakuan; ini adalah pola Tuhan dalam mengerjakan pemulihan. Dari doa permohonan Daud, kita belajar tiga langkah penting untuk kembali kepada Tuhan.
Pertama: Kejujuran Radikal. Dia tidak memberikan alasan atau menyalahkan orang lain. Dia mengakui tindakannya, menyatakan, “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku,” (ay. 5). Pertobatan sejati dimulai dengan pengakuan jujur akan kesalahan di hadapan Tuhan, tanpa mengurangi atau berusaha membela diri.
Kedua: Meminta Hal yang Tepat. Permintaan utama Daud bukanlah untuk belas kasihan atau bebas dari hukuman. Dia meminta hati yang bersih: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (ay. 12). Dia memahami bahwa masalahnya bersifat internal, yaitu hatinya yang sudah rusak dan hanya Tuhan yang dapat melakukan operasi spiritual untuk memperbaikinya. Dia mencari transformasi, bukan sekadar pengampunan.
Ketiga: Janji Hidup yang Berubah. Pertobatan sejati dibuktikan melalui buahnya. Daud berjanji bahwa ketika Tuhan memulihkannya, “Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” (ay. 15). Penyembuhan pribadinya bukanlah akhir dari segalanya; itu menjadi kesaksian untuk membantu orang lain menemukan jalan kembali kepada Tuhan.
Mazmur 51 mengajarkan kita bahwa tidak ada kegagalan yang final dalam kamus Tuhan. Ini menguatkan kita untuk mengatasi rasa malu menuju sebuah pengakuan yang jujur, untuk mendapatkan hati yang baru dan untuk membiarkan hidup kita menjadi kesaksian tentang kuasa penebusan Tuhan bagi orang lain, AMIN. (ES)