preloader
  Back   

KETAATAN MENDAHULUI MUKJIZAT

“Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia tersungkur di depan Yesus Kristus dan berkata: Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa" (Lukas 5:8)

    Banyak orang Kristen berpandangan bahwa klaim-kalim  iman akan menghasilkan mukjizat Tuhan. Seakan-akan Tuhan bisa dipaksa oleh iman kita untuk membuat mukzijat bagi kepentingan kita. Padahal yang diklaim sebagai iman itu bersumber dari ambisi pribadi untuk kepentingan sesaat dan tidak terkait dengan kemuliaan nama Tuhan.

    Kita belajar dari peristiwa narasi yang ditulis di Injil Lukas 5 tentang Simon Petrus yang sudah semalam-malaman berjuang menjaring ikan, namun mengalami kegagalan total. Di situ dikatakan setelah Simon Petrus yang adalah seorang nelayan ulung sudah berjuang totalitas dengan berbagai upaya dan segala keahliannya untuk  mencari ikan, namun, hasilnya nihil. Kemudian ia mendapat perintah Yesus untuk membawa perahunya ke tengah. Setelah ia mengizinkan perahunya dipakai Yesus untuk  mengajar banyak orang di tepi danau, Yesus menyuruh Petrus untuk  bertolak ke tengah dan  menyebarkan jala untuk menangkap ikan. Simon Petrus  tidak menolaknya sehingga akhirnya ia mendapat sejumlah besar tangkapan ikan sampai perahunya tidak mampu menampungnya. Ia meminta bantuan rekan-rekannya untuk memuat banyak ikan tersebut. Dari peristiwa ini, Simon Petrus justru disadarkan tentang keberadaan dirinya sebagai orang yang berdosa, yang tidak layak di hadapan kekudusan Tuhan.

     Peristiwan Simon Petrus ini mengandung makna teologis yang dalam sekaligus memberi wawasan dan pengertian yang benar. Peristiwa ini menjelaskan konsep yang kurang pas selama ini tentang terjadinya mukjizat dengan memaksakan klaim-klaim iman. 

      Pertama, Ketaatan Mendahului  Mukjizat. Mukjizat yang di alami Simon Petrus tidaklah terjadi mendadak sontak, namun diawali dengan suatu sikap ketaatan kepada Yesus Kristus. Sekalipun dalam kondisi cape, lelah bahkan putus asa karena semalaman mereka gagal menangkap ikan, hal itu tidak membuat Simon Petrus mengeluh atau menolak atas permintaan Tuhan Yesus  yang meminjam perahunya untuk mengajar banyak orang. Bahkan setelah itu, Yesus menyuruhnya  membawa perahunya  bertolak ke tengah untuk menangkap ikan lagi. Padahal usaha sudah Petrus lakukan semalaman, yang secara pengalaman Petrus adalah nelayan tulen  dengan berbagai keahlian dan pengalaman yang banyak karena nelayan merupakan mata  pencahariannya sehari hari. 

     Namun di ayat 5 b, Petrus menjawab: “Guru .... tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Hasilnya, ia mendapatkan mukjizat menangkap banyak ikan. Ketaatan Simon Petrus ini juga membawa pengenalan kepada Yesus meningkat mendalam dari ia  memanggil Yesus dari sebagai   “Guru menjadi Tuhan“ (ay. 8): “Ketika Simon  Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah daripadaku karena aku ini seorang berdosa". 

      Kedua, Mukjizat Bukan Tujuan Akhir tapi Ketaatan. Mukjizat tangkapan besar ikan tidak membuat Simon Petrus berhenti pada mukzijat atau berkat Tuhan itu. Mukjizat  bukanlah tujuan akhir , tetapi sebagai sarana yang dapat membawa pada kesadaran rohani ketidaklayakan di hadapan kekudusan  ilahi Tuhan Yesus. Mukzijat hanyalah sarana menghidupkan relasi dengan Tuhan , yang membawa kepada pertumbuhan rohani dan kerinduan akan pengenalan lebih kepada Pribadi Tuhan. 

       Ketiga, Kesadaran Akan Dosa. Mukjizat yang diawali oleh sikap ketaatan terlebih dahulu, seperti yang dilakukan oleh Simon Petrus tidak membuat dia berbangga diri, sombong dan merasa layak dan berjasa sehingga  berhak di hadapan Tuhan,  namun justru membuat Petrus menyadari ketidaklayakan diri di hadapan kekudusan Tuhan. Kemudian ia mengatakan kepada Tuhan Yesus: “Tuhan pergilah daripada ku karena aku ini org berdosa.” Ini adalah konsep yang benar, bahwa mukjizat mesti diawali dengan sebuah ketaatan pada Firman Tuhan. Hasilnya, mukjizat akan terjadi sesuai kehendak Tuhan bukan karena ambisi iman atau pemaksaan kehendak kepada Tuhan  yang dibungkus dengan kegigihan  retorika klaim-klaim iman.

    Sebagai kesimpulan, marilah kita mulai segala sesuatu dengan sikap ketaatan di hadapan Tuhan. Jangan merasa diri hebat dengan ambisi rohani atau pengetahuan klaim-klaim iman  kognitif  yang jusrtu membuat seseorang jatuh  pada kesombongan rohani, merasa berjasa atau hebat,  bahkan merasa berhak atas mukjizat Tuhan. 

    Marilah kita lebih mengutamakan ketaatan daripada mengejar mukzijat Tuhan, agar kita lebih mengenal dengan mendalam akan  Tuhan Yesus, lebih  daripada berkat-berkat-Nya. Pengenalan  akan Yesus Kristus adalah hidup kekal, Amin. (BE)

Share