Back   
JANGAN MEMANDANG BULU
“Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak. Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik” (Amsal 24:23)
Saya sering bergurau dengan teman-teman dengan mengajurkan pertanyaan, “Profesi apa yang tidak pernah memandang bulu?” Saat teman-teman kebingungan dan akhirnya menyerah, saya menjawab, “Tukang sate.” Beberapa orang yang paham langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan yang telmi (telat mikir) lanjut bertanya, “Kok bisa?”
Kepada orang terakhir ini saya menjawab, “Soalnya bakul sate itu tidak peduli bulu ayam atau kambing yang disembelihnya. Semuanya disembelih untuk jualan sate.” Kali ini yang telmi ikut ngakak.
Mengapa ayat itu muncul? Bisa jadi karena pada zaman dulu—termasuk zaman sekarang—ada saja hakim yang nakal yang mempermainkan kasus dengan motif uang. Slogan “Maju tak gentar membela yang benar” diplesetkan jadi “Maju tak gentar membela yang bayar.” Ngeri bukan?
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Baca saja ayat selanjutnya: “Siapa berkata kepada orang fasik: ‘Engkau tidak bersalah,’ akan dikutuki bangsa-bangsa, dilaknatkan suku-suku bangsa. Tetapi mereka yang memberi peringatan akan berbahagia, mereka akan mendapat ganjaran berkat. Siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir” (Ams 24:24-26).
Sobat bijak, penulis kitab Amsal—Raja Salomo—memberikan nasihat yang jelas, tegas dan tidak multitafsir. Jadi siapa yang berani mempermainkan hukum—mengutak-atik ayat-ayat hukum untuk menguntungkan salah satu pihak—akdn dikutuki bangsa-bangsa. Sebaliknya, orang yang memberikan jawaban yang benar dan berkenan bagi Tuhan akan mendapatkan pujian. (XQP)
Doa: Bapa, ajar aku untuk punya integritas dengan tidak memakai uang untuk mempermainkan pengadilan. Ajar aku untuk mengambil keputusan yang benar dengan benar.