preloader
  Back   

MENGHADAPI KRITIK

“Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal” (Amsal 17:10)

Coba tebak siapa yang paling sering melontarkan dan menerima kritik? Pengantin baru. Lho kok? Bukankah mereka sedang berbula madu. Ya sih, tetapi coba perhatikan percakapan mereka. Saya pernah diajak pasutri baru berbulan madu dan mendengar obrolan mereka.

“Ya, kayaknya kaosnya nggak pas deh dengan celanamu,” ujar sang istri.
“Masak sih? Menurutku ini sudah matching,” sahut suaminya.
“Matching apaan? Kayaknya you perlu berlajar filosofi warna,” sahut istrinya.

Meskipun saling melontarkan kritik, mereka masih bisa meredam omelan pasangan. Mengapa? Apa kritikan pasangan tidak pedas? Pedas sih, tetapi karena masih bulan madu ya tidak padu (Jawa = bertengkar). Coba kalau pernikahan sudah berjalan lebih dari 5 tahun.

Nah, bagaimana menghadapi kritik? Ada tiga. 
Pertama, kritik itu biasa. Tidak usah ditanggapi dengan drama. Bisa jadi itu ‘duri dalam daging’. Tinggal bagaimana respon kita? Dan yang lebih penting, dari siapa kritikan itu? Kalau dari sahabat yang bermaksud untuk mengoreksi kita, artinya tujuannya jelas, mengoreksi kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan tanggapi kritik dari sahabat sejati dengan sikap defensif yang akhirnya merusak persahabatan. Bahkan kritik dari musuh itu—meskipun menjengkelkan—biasanya justru benar karena tidak pakai tedeng aling-aling, sedangkan teman oportunis tidak pernah mau mengkritik sahabatnya walaupun tindakan temannya itu merugikan diri mereka.

Kedua, jangan menganggapnya terlalu pribadi. Kalau tujuannya baik—meskipun cara menyampaikannya ‘mbencekno’ kata orang Surabaya—kita harus terima meskipun dengan muka kecut. 

Ketiga, tetap fokus kepada Tuhan dan tidak teralihkan. Jangan sampai kritikan itu menjadi akar pahit dan akhirnya memahitkan seluruh hidup kita.

Keempat, serahkan kepada Tuhan. Jika memang kritikan itu benar, bertobatlah. Perbaiki diri. Jika salah, ya anggap sampah atau angin lalu saja.

Sobat bijak, marilah kita jadikan kritikan sebagai cambuk untuk melejit lebih tinggi lagi. (XQP).

Doa: Bapa, ajar aku untuk memiliki hati yang lembut agar bisa menerima kritikan dengan bijaksana.

Share