preloader
  Back   

IMAN YANG TEGUH

"Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu" (Matius 9:21-22)

 Secara khusus, Matius 9:18–26 mencatat dua peristiwa yang saling terjalin: Yesus sedang dalam perjalanan untuk membangkitkan anak kepala rumah ibadat, Yairus, ketika seorang perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan datang dan menjamah jubah-Nya.

Menurut hukum Taurat (Imat 15:25–27), perempuan ini dianggap najis secara ritual. Selama dua belas tahun, ia bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga dikucilkan secara sosial dan religius. Ia tidak boleh menyentuh siapa pun, apalagi seorang rabi. Namun di tengah keterasingan dan penderitaan panjang itu, perempuan ini memiliki iman yang sederhana namun teguh: ia percaya bahwa kuasa Yesus cukup untuk menyembuhkannya, bahkan hanya dengan menjamah jubah-Nya.

Yesus tidak menegur perempuan itu karena melanggar aturan, tetapi justru memanggilnya “anak-Ku”—ungkapan kasih dan penerimaan yang mendalam. Yesus menegaskan bahwa bukan jubah-Nya yang menyembuhkan, melainkan iman perempuan itu yang bersandar penuh kepada-Nya. Perikop ini menyingkapkan hati Yesus yang penuh belas kasihan serta kuasa iman yang sejati. Maka dari peristiwa ini, kita dapat melihat tiga kebenaran rohani penting tentang iman yang berkenan kepada Tuhan dan membawa pemulihan sejati.

Pertama: IMAN YANG LAHIR DARI KEPUTUSAN YANG BERSANDAR PADA TUHAN

Perempuan ini telah menghabiskan segala miliknya untuk tabib-tabib, tetapi tidak ada yang sanggup menolongnya (Mark. 5:26). Ketika semua harapan manusia gagal, ia tidak menyerah, melainkan datang kepada Yesus. Keputusasaan tidak membuatnya menjauh dari Tuhan, tetapi justru mendorongnya untuk berharap penuh kepada-Nya. Inilah iman yang sejati: iman yang tetap percaya meskipun keadaan tidak memberi alasan untuk berharap. Dalam Mazmur 34:19  “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.”

Kedua: IMAN YANG AKTIF, BUKAN SEKADAR KEYAKINAN PIKIRAN & HATI

Iman perempuan itu bukan hanya perasaan di dalam hati, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata: ia menjamah jubah Yesus. Meski takut, meski melanggar norma sosial, ia melangkah maju. Iman sejati selalu mendorong tindakan datang kepada Tuhan, berserah, dan berani melangkah. Yesus menanggapi iman yang dinyatakan, bukan iman yang hanya disimpan dalam pikiran.
Yakobus 2:17 berkata: “Iman, jika tidak disertai perbuatan, adalah mati.”

Ketiga: YESUS MENANGGAPI IMAN DENGAN PEMULIHAN YANG SEMPURNA

Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh perempuan itu, tetapi juga memulihkan martabat dan jiwanya. Dengan menyebutnya “anak-Ku,” Yesus mengangkat kembali identitasnya yang selama ini hancur oleh penderitaan dan stigma. Ia bukan hanya sembuh secara fisik, tetapi juga diselamatkan secara rohani. Pemulihan dari Yesus selalu bersifat utuh tubuh, jiwa, dan relasi dengan Allah. Yesaya 53:5  “Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.”

Dari kisah perempuan di atas, kita diajak untuk datang kepada Yesus apa adanya dengan luka, ketakutan, dan keterbatasan kita. Jangan menunggu keadaan sempurna untuk percaya. Iman yang sederhana tetapi sungguh-sungguh sanggup menjamah hati Tuhan. Hari ini, mungkin kita seperti perempuan itu: lelah, kecewa, dan hampir putus asa. Namun Firman Tuhan menegaskan bahwa satu sentuhan iman kepada Kristus sanggup membawa pemulihan yang tidak pernah kita bayangkan. Datanglah kepada-Nya, sebab iman yang tertuju kepada Yesus tidak pernah sia-sia, Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)

Share