Back   
TUHAN, BERIKAN AKU CUKUP
Seorang pria memenangkan lotre dalam jumlah fantastis lalu kehilangan segalanya, bukan karena uangnya habis, tetapi uang itu merusak dirinya. Pernikahannya runtuh, imannya kandas, dan teman-temannya menjauhinya. Seumur hidup ia berdoa untuk kelimpahan. Ironis, kelimpahan itu justru menghancurkannya.
Di sisi lain ada kisah tentang seorang yang begitu putus asa hingga harus mencuri roti untuk memberi makan anak-anaknya dan mengutuki Tuhan karena kemalangan yang dialaminya. Kedua kisah itu nyata dan seorang bijak bernama Agur telah melihatnya ribuan tahun yang lalu. Tiga poin yang bisa pelajari dari Amsal 30:7-9:
Pertama: Keberanian Untuk Meminta Integritas. Agur membuka dengan permohonan yang mengejutkan: “Jauhkanlah dariku kecurangan dan kebohongan.” Sebelum meminta hal materi, ia meminta integritas. Ini doa yang radikal, karena kebanyakan dari kita diam-diam lebih suka mengorbankan integritas demi kenyamanan dan materi. Agur tahu bahwa hidup yang dibangun di atas penipuan adalah rumah di atas pasir. Kejujuran bukan hanya soal moral, tapi fondasi. Tanpanya, semuanya pada akhirnya runtuh.
Kedua: Bahaya Memiliki Terlalu Banyak. Lalu Agur berdoa menentang kekayaan. Bukan karena uang itu jahat, tetapi karena ia mengenal dirinya sendiri. “Supaya kalau aku kenyang, aku menyangkal Engkau dan berkata: Siapakah Tuhan itu?” Kemakmuran punya cara yang halus dan terselubung, yang membuat Tuhan terasa tidak perlu. Saat kulkas penuh, rekening sehat, dan masa depan terasa terkendali, doa mulai terasa sekadar formalitas. Agur tidak munafik; ia sedang jujur menyatakan mengenai dampak kerohanian dari kelimpahan.
Ketiga: Bahaya Memiliki Terlalu Sedikit. Sungguh menarik, Agur juga tidak memuja kemiskinan. Terlalu sedikit, dan miskin bisa membuat seseorang putus asa dan bisa mendorongnya untuk mencuri dan itu mencemarkan nama Tuhan. Penderitaan tidak otomatis menghasilkan kekudusan. Kadang justru melahirkan kepahitan dan keputusan yang buruk. Agur memahami bahwa kebutuhan ekstrem adalah jebakan rohani yang sama bahayanya.
Dalam doanya, Agur meminta agar ia diberi cukup, yaitu cukup untuk bertahan tanpa terjerat, cukup untuk percaya kepada Tuhan setiap hari tanpa rasa aman palsu dari kelimpahan. Ini adalah doa dari seseorang yang telah melihat hati manusia secara jujur dan sadar tentang bahaya yang terjadi apabila memiliki terlalu banyak dan terlalu sedikit. Ia meminta: Tuhan, berikan aku cukup, AMIN. (ES)