preloader
  Back   

INDAHNYA MASA LALU

"Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami?" (Bilangan 16:13)

Dalam pemberontakan terhadap Musa, Datan dan Abiram berkata sesuatu yang mengejutkan. Mereka menyebut Mesir sebagai “negeri yang berlimpah susu dan madu.” Padahal Mesir adalah tempat perbudakan. Di sanalah mereka ditindas, dipaksa bekerja tanpa belas kasihan, dan berseru minta tolong kepada Tuhan. Namun ketika mereka berada di padang gurun dan keadaan terasa sulit, ingatan mereka berubah. Mesir yang dulu menyakitkan tiba-tiba tampak indah.

Begitulah hati manusia. Saat perjalanan bersama Tuhan terasa berat, kita mudah memandang masa lalu dengan kacamata yang salah. Kita lupa air mata, lupa doa-doa minta dilepaskan, lupa bagaimana Tuhan menolong kita keluar. Yang kita ingat hanya kenyamanan semu. Kita mulai berkata dalam hati, “Dulu lebih enak.” Padahal “dulu” itu mungkin adalah tempat yang justru Tuhan bebaskan dari hidup kita.

Padang gurun memang tidak nyaman. Ada proses, ada ketidakpastian, ada pembentukan. Tetapi padang gurun adalah tempat Tuhan menuntun, bukan tempat perbudakan. Mesir mungkin terlihat stabil, tetapi di sana tidak ada kebebasan sejati.

Mari kita belajar untuk jujur pada diri sendiri. Apakah kita sedang mengidealkan “Mesir” kita? Mungkin itu kebiasaan lama yang tidak sehat, lingkungan lama yang menjauhkan kita dari Tuhan, atau cara hidup lama yang terasa lebih mudah. Saat keadaan sekarang terasa berat, jangan sampai kita merindukan kembali apa yang dulu memperbudak kita. Ingatlah alasan Tuhan membawa kita keluar. Percayalah bahwa meskipun perjalanan terasa sulit, Tuhan tidak pernah salah arah. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di padang gurun, daripada kembali nyaman tetapi terikat di Mesir. Tuhan Yesus Memberkati. (EZ)

Share