preloader
  Back   

MENGASIHI ANAK

“Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya” (Amsal 19:18)

Amsal 19:18 mengingatkan bahwa kasih kepada anak bukanlah perasaan lembut tanpa batas, melainkan tanggung jawab yang tegas dan penuh pengharapan. Frasa “selama ada harapan” menunjukkan masa pembentukan karakter. Ada waktu emas di mana hati anak masih bisa diarahkan. Jika orang tua mengabaikan disiplin, sesungguhnya ia sedang membiarkan anak berjalan menuju kehancuran.

Di zaman sekarang, kasih sering disalahartikan sebagai membiarkan. Takut anak terluka, takut hubungan renggang, takut dianggap keras. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kasih sejati berani menegur. Dalam Surat Ibrani 12:6 tertulis, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.” Bahkan ayat 11 menegaskan bahwa didikan memang tidak menyenangkan pada saat diberikan, tetapi kemudian menghasilkan buah kebenaran.

Kasih tanpa disiplin melahirkan anak yang tidak siap menghadapi kehidupan. Sebaliknya, disiplin tanpa kasih melahirkan luka batin. Alkitab memanggil orang tua untuk menghadirkan keduanya: hati yang lembut dan tangan yang tegas. Teguran bukan ekspresi kemarahan, tetapi bentuk perlindungan. Didikan bukan pelampiasan emosi, tetapi investasi masa depan.

Rasul Paulus juga menasihati dalam Surat Efesus 6:4 agar orang tua mendidik anak “di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Artinya, disiplin harus berakar pada kasih dan kebenaran Firman, bukan pada ego atau ambisi orang tua.

Mengasihi anak berarti berani berkata “tidak” ketika diperlukan. Berani mengoreksi ketika salah. Berani membentuk ketika karakter mulai menyimpang. Karena tujuan kasih bukan kenyamanan sesaat, tetapi keselamatan dan masa depan yang penuh harapan.

Kasih sejati tidak hanya memeluk, tetapi juga membentuk. Amen. Tuhan Yesus Memberkati. (EN)

Share