preloader
  Back   

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

"Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat" (Lukas 6:35)

     Ini adalah salah satu ajaran Tuhan Yesus yang paling menantang, karena berbicara tentang kasih yang tidak biasa, kasih kepada musuh. Dunia mengajarkan untuk membalas, tetapi Yesus mengajarkan untuk mengasihi tanpa syarat, bahkan kepada orang yang menyakiti kita.

      Untuk itu mari kita renungan ke 4 poin berikut:
      Pertama: Kasih yang tidak bergantung pada perlakuan orang lain. Yesus berkata, “kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka.” Ini berarti kasih kita tidak boleh ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita.

      Secara manusia, mudah mengasihi orang yang baik kepada kita. Namun mengasihi orang yang menyakiti, mengkhianati, atau tidak tahu berterima kasih adalah hal yang sangat sulit. Tetapi di situlah letak kekristenan yang sejati—kasih yang tetap memberi, walau tidak menerima balasan. Kasih seperti ini hanya mungkin ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, karena sumber kasih sejati berasal dari Allah sendiri.

      Kedua: Memberi tanpa mengharapkan balasan. Yesus juga berkata, “pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan.” Ini berbicara tentang hati yang tulus dalam memberi. Seringkali manusia memberi dengan harapan akan menerima kembali, entah dalam bentuk materi, penghargaan, atau perlakuan baik. Namun Tuhan mengajarkan untuk memberi dengan hati yang murni, tanpa motivasi tersembunyi.

      Ketika kita memberi tanpa pamrih, kita sedang meneladani karakter Allah yang memberi tanpa batas kepada manusia, bahkan kepada mereka yang tidak bersyukur.

       Ketiga: Menjadi serupa dengan Bapa di sorga. Yesus menegaskan bahwa dengan hidup dalam kasih seperti ini, kita akan disebut anak-anak Allah Yang Mahatinggi. Mengapa? Karena kita mencerminkan karakter Tuhan.

      Tuhan sendiri baik kepada semua orang, baik yang bersyukur maupun yang tidak, baik yang benar maupun yang jahat. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak diskriminatif. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk hidup seperti Dia—mengasihi tanpa batas, mengampuni tanpa syarat, dan berbuat baik tanpa pamrih.

       Ke empat: Upah dari Tuhan lebih besar dari balasan manusia. Yesus menjanjikan bahwa “upahmu akan besar.” Ini mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan kasih yang kita lakukan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Mungkin manusia tidak menghargai, bahkan membalas dengan kejahatan. Tetapi Tuhan melihat setiap tindakan kasih kita, dan Ia yang akan memberikan upah yang kekal.

      Karena itu, jangan lelah berbuat baik. Kasih yang kita tabur hari ini akan menghasilkan berkat, baik dalam hidup sekarang maupun dalam kekekalan..Mari kita terus belajar mengasihi orang yang sulit kita kasihi. Memberi dan menolong tanpa mengharapkan balasan. Menjadi saksi kasih Tuhan melalui tindakan nyata setiap hari, Amin. 
Tuhan Yesus Memberkati. (SG)

Share