Back   
STANDAR ILAHI
(Markus 12:28–34)
Ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab dengan sangat jelas: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Jawaban ini tidak hanya menjawab pertanyaan teologis, tetapi juga menyingkapkan hati Kerajaan Allah. Dalam dunia yang penuh kepentingan diri, Yesus mengundang kita memiliki cara berpikir yang berbeda—mindset sorgawi.
Pertama, Mindset Sorgawi Berbeda dengan Mindset Dunia (ay. 28–30).
Yesus memulai jawabannya dengan perintah, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu.” Kata Yunani untuk “akal budi” adalah "dianoia" (διάνοια), yang berarti pikiran, pola berpikir, atau cara memahami realitas. Dunia mengajar kita berpikir tentang keuntungan diri, status, dan kenyamanan.
Namun, "dianoia" yang diperbarui berarti pikiran kita diarahkan kepada kehendak Allah. Yesus sebelumnya menegur cara berpikir yang keliru tentang kebangkitan (Markus 12:18–27). Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran manusia sering terbatas oleh logika dunia. Ketika pikiran kita dipenuhi firman Tuhan, kita mulai melihat hidup dari perspektif kekekalan. Kita belajar membuat keputusan bukan hanya berdasarkan keuntungan sementara, tetapi berdasarkan kehendak Allah.
Kedua, Mengasihi Allah Tanpa Reserve (ay. 30).
Kata Yunani untuk “mengasihi” adalah "agapaō" (ἀγαπάω), yaitu kasih yang total, penuh komitmen, dan tidak bersyarat. Kasih ini bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan hati untuk menempatkan Allah di atas segalanya.
Yesus menegaskan bahwa kasih ini melibatkan seluruh keberadaan kita: hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan. Banyak orang mengasihi Allah sebagian—ketika keadaan baik atau doa dijawab. Namun "agapaō" berarti menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, baik dalam keberhasilan maupun kesulitan. Dalam kehidupan sehari-hari, kasih ini terlihat ketika kita tetap setia berdoa, menyembah, dan menaati firman, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Ketiga, Mengasihi Sesama Tanpa Syarat (ay. 31).
Yesus melanjutkan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yunani untuk “sesama” adalah "plēsion" (πλησίον), yang berarti orang yang berada dekat dengan kita—siapa saja yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Dunia sering mengasihi secara selektif: hanya kepada yang menguntungkan atau menyenangkan. Namun kasih Kerajaan Allah melampaui batas suku, status, dan perasaan. Yesus menunjukkan bahwa mengasihi sesama adalah bukti nyata kasih kepada Allah.
Dalam praktiknya, ini berarti kita memilih untuk mengampuni, menolong, dan memperlakukan orang lain dengan hormat, bahkan ketika mereka tidak membalas dengan kebaikan.
Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah inti dari seluruh hukum Tuhan. Yesus bahkan menegaskan bahwa tidak ada perintah yang lebih besar daripada kedua hal ini. Ketika ahli Taurat itu memahami jawaban Yesus, ia menyadari bahwa mengasihi Allah dan sesama jauh lebih berharga daripada semua korban dan persembahan. Responnya menunjukkan bahwa ia mulai melihat kebenaran dengan perspektif yang benar. Karena itu Yesus berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Bagi kita di zaman ini, pesan ini sangat relevan. Kekristenan bukan sekadar ritual, tradisi, atau aktivitas keagamaan. Intinya adalah hubungan kasih dengan Allah yang mengalir keluar kepada sesama. Ketika pikiran kita diperbarui dengan firman Tuhan, kita belajar memandang hidup dari perspektif kekekalan. Ketika kita mengasihi Allah tanpa reserve (cadangan), hidup kita dipenuhi penyembahan yang tulus. Dan ketika kita mengasihi sesama tanpa syarat, dunia dapat melihat refleksi kasih Kristus melalui hidup kita.
Kiranya setiap kita terus membangun mindset sorgawi, mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita, dan menghadirkan kasih-Nya kepada setiap orang di sekitar kita. Di situlah Kerajaan Allah nyata dalam kehidupan kita. (LKH)