Back   
KEAGUNGAN KASIH ALLAH
(Mazmur 89:39–53)
Kasih tidak berarti lembek. Mazmur ini menggambarkan ketegangan antara janji Allah dan realita disiplin-Nya. Pemazmur melihat seolah-olah Allah “menolak” raja yang diurapi, namun di balik itu ada maksud ilahi yang dalam: membentuk, memurnikan, dan membawa umat kembali kepada-Nya. Apa inti perikop ini yang bisa kita ambil hikmahnya?
Pertama, Allah mendisiplinkan orang yang Ia urapi.
Dalam ayat 39–41, terlihat bagaimana Allah membiarkan kehormatan raja direndahkan. Dalam terjemahan Yunani (LXX), konsep disiplin sering memakai kata "paideuō" (παιδεύω), yang berarti mendidik seperti seorang ayah kepada anak. Ini bukan penolakan, tetapi pembentukan. Ibrani 12:6 menegaskan, “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.” Disiplin adalah tanda kasih, bukan kebencian.
Dalam kehidupan kita, ketika Tuhan mengizinkan tekanan atau kehilangan, itu sering kali adalah cara-Nya membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus.
Kedua, Allah menghajar sampai membawa pertobatan.
Mazmur 89:46 bertanya, “Berapa lama lagi, ya TUHAN?” Ini menunjukkan proses yang tidak instan. Kata "paideuō" juga mengandung unsur koreksi berulang sampai terjadi perubahan. Wahyu 3:19 berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.”
Tuhan tidak berhenti di tengah proses. Ia setia menyelesaikan pekerjaan-Nya sampai hati kita kembali kepada-Nya. Dalam aplikasi, jangan melawan proses Tuhan—respon terbaik adalah kerendahan hati dan pertobatan yang tulus.
Terakhir, Allah tidak pandang bulu dalam menghukum kesalahan.
Ayat 39 menunjukkan bahwa bahkan “yang diurapi” pun tidak kebal terhadap disiplin. Roma 2:11 menegaskan, “Sebab Allah tidak memandang muka.”
Standar kekudusan Allah berlaku untuk semua. Ini mengingatkan kita bahwa posisi, jabatan, atau pelayanan tidak menggantikan ketaatan. Kita dipanggil untuk hidup benar, bukan hanya terlihat benar.
Akhirnya, pemazmur menutup dengan pujian (ayat 53), menunjukkan iman yang tetap teguh. Disiplin Tuhan bukan akhir cerita. Di balik setiap koreksi, ada kasih setia yang tidak berubah. Karena itu, mari kita belajar melihat tangan Tuhan dalam setiap proses, percaya bahwa Ia sedang membawa kita kepada kehidupan yang lebih murni dan lebih dekat dengan-Nya. (LKH)