Back   
POHON ARA TANPA BUAH
Baru-baru ini terjadi keributan berujung acara tuntut menuntut yang disebabkan karena hal yang sebenarnya cukup sepele. Ada beberapa orang masuk ke sebuah restoran. Setelah duduk dan memesan, makanannya tidak datang-datang. Pelayan lewat berkali-kali dengan tangan kosong dan ketika ditanya tidak ada kejelasan kapan makanan mereka akan datang. Ini jadi masalah.
Inilah gambaran yang terjadi di balik salah satu mukjizat Yesus yang paling sering disalahpahami. Ada 3 hal yang bisa kita pelajari:
Pertama, Penampilan Luar Saja Tidak Cukup. Dalam Markus 11:12–14, Yesus mendekati sebuah pohon ara dengan daun lebat yang menunjukkan sebuah potensi. Namun, ketika Ia mendekat untuk mencari buah, Ia tidak menemukan apa pun. Daun-daun itu mengumumkan janji yang tidak mampu ditepati oleh pohon tersebut. Ini menggambarkan kehidupan yang dibalut aktivitas keagamaan, seperti rutin ke gereja, bicara hal-hal rohani, atau sikap yang baik di depan umum. Namun, sebenarnya bukan jaminan apabila tidak disertai transformasi yang sejati. Yesus tidak terkesan hanya oleh daun yang rimbun saja.
Kedua, Yesus Mendekat dengan Harapan. Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa Yesus datang kepada pohon itu dengan harapan dapat menemukan buah. Ia datang dengan maksud yang jelas, mencari bukti bahwa hidup yang telah Ia berikan benar-benar dijalani dengan baik. Pengutukan terhadap pohon itu bukanlah ekspresi kemarahan ilahi yang impulsif, melainkan menunjukkan apa yang terjadi ketika harapan bertemu dengan kekosongan. Kehidupan dalam Kristus dimaksudkan untuk menghasilkan sesuatu yang nyata, seperti kasih, keadilan, kerendahan hati, dan pelayanan.
Ketiga, Tidak Berbuah Membawa Akibat. Ketika Yesus berkata, “Janganlah ada orang lagi yang memakan buah daripadamu sampai selama-lamanya,” pohon itu langsung layu. Ini adalah gambaran yang serius tentang konsekuensi. Ketika seseorang, gereja, atau komunitas menolak untuk berbuah, mereka tidak akan tetap sama, pasti akan mengalami kemunduran. Anugerah Tuhan adalah tanah subur yang memungkinkan hidup kita berbuah.
Melalui perikop ini, ada pertanyaan sederhana kepada setiap kita: Ketika Yesus mendekati kehidupan kita hari ini — apa yang Ia temukan, daun yang rimbun saja ataukah buah? AMIN. (ES)