preloader
  Back   

YESUS BERKUASA

(Matius 15:21-39)

Bacaan HBC kita hari ini (Matius 15:21-39) menghadirkan gambaran utuh tentang kuasa Yesus yang tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan saja. Dalam rangkaian peristiwa yang disusun secara apik, Matius menegaskan bahwa Yesus berkuasa menyentuh pergumulan manusia secara menyeluruh.

Pertama, Yesus berkuasa atas alam roh. Dalam perjumpaan dengan perempuan Kanaan (Mat. 15:21–28), kita melihat masalah yang paling dalam dan paling menakutkan: kerasukan setan. Perempuan ini tidak memiliki status religius, tidak berasal dari umat pilihan, dan tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolong anaknya. Namun ia datang kepada Yesus dengan iman yang tekun dan rendah hati (iman yang besar kata Yesus di ayat 28). 

Menariknya, Yesus tidak berdebat dengan setan, tidak melakukan ritual pengusiran yang panjang. Ia hanya menyatakan kehendak-Nya, dan kuasa gelap itu pun tunduk. Peristiwa ini menegaskan bahwa alam roh bukan wilayah abu-abu yang setara dengan kuasa Allah. Setan tidak bernegosiasi dengan Yesus; ia takluk kepada otoritas-Nya. Kuasa Yesus melampaui batas etnis, tradisi, dan jarak. Anak perempuan itu sembuh pada saat itu juga.

Kedua, Yesus berkuasa atas tubuh manusia. Setelah itu, Matius mencatat bagaimana orang banyak membawa kepada Yesus orang lumpuh, timpang, buta, bisu, dan banyak lagi yang lain (Mat. 15:29–31). Deretan penyakit ini menggambarkan rapuhnya tubuh manusia akibat dosa dan keterbatasan ciptaan. Namun di hadapan Yesus, tidak ada penyakit yang terlalu berat atau terlalu kompleks. Ia memulihkan mereka semua (ayat 30). 

Reaksi orang banyak bukan sekadar kagum, tetapi memuliakan Allah Israel. Kesembuhan yang dikerjakan Yesus tidak berpusat pada sensasi, melainkan pada pemulihan manusia dan kemuliaan Allah. Ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak memisahkan rohani dan jasmani; Yesus peduli pada tubuh yang menderita sama seperti pada jiwa yang terluka.

Ketiga, Yesus berkuasa atas hidup sehari-hari. Dalam peristiwa memberi makan empat ribu orang (Mat. 15:32–39), Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas kebutuhan dasar manusia. Orang-orang itu lapar setelah mengikuti-Nya selama tiga hari. Murid-murid melihat dengan "mata keterbatasan", tetapi Yesus melihat dengan "mata belas kasihan". 

Dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil, Yesus mencukupkan kebutuhan ribuan orang. Kuasa Yesus bekerja bukan dengan mengabaikan realitas, melainkan melalui apa yang tersedia. Ia adalah Tuhan yang sanggup memelihara umat-Nya di tengah keterbatasan.

Melalui ketiga peristiwa ini, Matius menegaskan satu kebenaran penting: Yesus berkuasa secara menyeluruh. Ia berdaulat atas alam roh, tubuh manusia, dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, iman kepada Yesus bukanlah iman parsial, melainkan penyerahan total kepada Tuhan yang berkuasa atas seluruh hidup. 

Oleh sebab itu Bapak/Ibu sahabat HBC, mari kita beriman dengan mempercayakan hidup kita seluruhnya kepada Dia, Yesus Kristus Tuhan yang berkuasa. Amen. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita senantiasa. (YAS)

Share