Back   
BERSYUKUR
"Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: ”Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan" (Keluaran 16: 2-3)
Ayat ini menceritakan bagaimana bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa dan Harun di padang gurun. Keluhan ini muncul tidak lama setelah Tuhan melakukan mukjizat besar: membebaskan mereka dari perbudakan, membelah Laut Teberau, dan mengalahkan musuh-musuh mereka. Namun, ketika menghadapi kesulitan baru, semua kebaikan Tuhan seolah terlupakan.
Bukankah Israel merupakan gambaran kita dalam menyikapi hidup? Betapa mudahnya kita bersungut-sungut ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan. Saat doa belum terjawab, saat kebutuhan terasa mendesak, atau ketika hidup terasa berat, keluhan sering kali lebih cepat keluar daripada ucapan syukur.
Bangsa Israel melihat Mesir sebagai tempat yang “lebih baik” karena ada makanan, padahal Mesir adalah tempat perbudakan. Sungut-sungut membuat mereka memandang masa lalu dengan kacamata yang salah dan meragukan pemeliharaan Tuhan. Demikian juga kita, ketika hati dipenuhi keluhan, kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain, meromantisasi masa lalu, dan kehilangan kepercayaan pada rencana Tuhan.
Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali kebaikan Tuhan yang telah kita alami. Tuhan mengingatkan kita untuk belajar percaya di tengah “padang gurun” kehidupan. Padang gurun bukan tanda Tuhan meninggalkan kita, tetapi sering kali menjadi tempat Tuhan mengajar kita untuk bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Mari belajar mengganti sungut-sungut dengan syukur, dan ketakutan dengan iman. Sebab Tuhan yang setia di masa lalu adalah Tuhan yang sama yang memelihara hidup kita hari ini dan seterusnya. (SLS)